Skor FORREST-CPR buat dokter lebih cepat memutuskan RJP
D
Blog

Skor FORREST-CPR buat dokter lebih cepat memutuskan RJP

Teknologi
DOCLYNA 14 Aug 2026 4 min baca 794 kata 2

FORREST-CPR Score merupakan instrumen prognostik yang dikembangkan untuk membantu dokter memperkirakan luaran resusitasi pada pasien kritis. Berbasis tiga parameter klinis sederhana, skor ini mendukung pengambilan keputusan yang lebih objektif, etis, dan tetap menghormati martabat pasien.

Kemajuan teknologi kedokteran memungkinkan fungsi tubuh pasien dipertahankan dalam kondisi yang sebelumnya sulit untuk ditangani. Akan tetapi, kemampuan untuk melakukan intervensi tidak selalu berarti bahwa setiap tindakan masih memberikan manfaat bagi pasien.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok pemikiran dalam orasi ilmiah Prof. Dr. dr. Ardi Pramono, Sp.An-TI., M.Kes. ketika dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-53 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 4 Juli 2026. Orasi berjudul “Anestesiologi dan Terapi Intensif dalam Menjaga Martabat Hidup: Dari Intervensi Medis Menuju Keputusan Klinis Berbasis Bukti” tersebut memperkenalkan Skor FORREST-CPR (Futile for Resuscitation).

Skor FORREST-CPR dikembangkan sebagai instrumen pendukung keputusan untuk membantu dokter memperkirakan kemungkinan kegagalan resusitasi pada pasien dengan kondisi tertentu. Kehadirannya mencoba menjawab pertanyaan yang kerap muncul di ruang gawat darurat dan unit perawatan intensif: apakah resusitasi masih berpotensi memberikan manfaat, atau justru hanya memperpanjang proses kematian tanpa memperbaiki luaran pasien?

Ketika Resusitasi Tidak Selalu Mengembalikan Kehidupan

Resusitasi jantung paru merupakan tindakan penting dalam penanganan henti jantung. Pada pasien yang mengalami kondisi akut dan masih memiliki cadangan fisiologis yang memadai, tindakan ini dapat membuka peluang untuk bertahan hidup.

Situasinya berbeda pada pasien dengan penyakit terminal, kanker stadium lanjut, atau kegagalan organ multipel. Keberhasilan mengembalikan sirkulasi pada kelompok tersebut cenderung lebih rendah. Kalaupun denyut jantung berhasil pulih, pasien belum tentu memperoleh pemulihan neurologis atau kualitas hidup yang bermakna.

Tim medis akhirnya tidak hanya berhadapan dengan pertanyaan, “Apakah resusitasi dapat dilakukan?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Apakah resusitasi masih bermanfaat bagi pasien?”

Tindakan yang secara teknis dapat dikerjakan, tetapi hampir tidak memberikan manfaat klinis, dikenal sebagai medical futility. Penilaiannya tidak mudah karena melibatkan kondisi medis, prognosis, nilai dan preferensi pasien, pertimbangan keluarga, serta tanggung jawab etik tenaga kesehatan. Keputusan sebesar ini tidak seharusnya hanya bergantung pada intuisi atau pendapat individu.

Dari Data Klinis Menjadi Skor yang Praktis

Skor FORREST lahir melalui rangkaian telaah literatur, pengolahan data rekam medis, dan analisis statistik multivariat. Tujuannya adalah menyederhanakan sejumlah indikator klinis menjadi alat bantu yang mudah digunakan dalam situasi ketika waktu untuk pengambilan keputusan sangat terbatas.

Model ringkas Skor FORREST menggunakan tiga komponen klinis:

  • penggunaan obat vasoaktif atau vasopresor;

  • adanya anemia;

  • gangguan paru atau pernapasan.

Ketiga komponen tersebut dipilih karena berkaitan dengan kemungkinan kegagalan resusitasi. Model tiga variabel ini menunjukkan kinerja yang sebanding dengan model yang memiliki lebih banyak komponen, tetapi lebih praktis untuk diterapkan di IGD maupun di ICU.

Kesederhanaan menjadi nilai penting Skor FORREST. Dokter tidak harus menunggu rangkaian pemeriksaan yang rumit untuk memperoleh gambaran awal mengenai prognosis resusitasi. Informasi yang tersedia pada saat penilaian pasien dapat segera digunakan untuk mendukung diskusi klinis.

Bukan Pengganti Keputusan Dokter

Skor FORREST tidak dimaksudkan sebagai tombol otomatis untuk menentukan apakah seorang pasien harus atau tidak harus diresusitasi. Angka tidak dapat berdiri sendiri dalam keputusan yang menyangkut kehidupan manusia.

Hasil skor tetap perlu dipadukan dengan diagnosis, reversibilitas penyakit, kondisi fisiologis, prognosis, keinginan pasien, komunikasi dengan keluarga, serta kebijakan etik dan klinis rumah sakit. Dengan demikian, FORREST berfungsi sebagai alat bantu objektif—bukan sebagai pengganti penilaian klinis maupun sebagai dasar tunggal untuk menetapkan keputusan do not resuscitate.

Penggunaan skor justru diharapkan dapat membuat proses pengambilan keputusan lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dokter memiliki dasar ilmiah untuk menjelaskan kondisi pasien, sementara keluarga memperoleh gambaran yang lebih realistis tentang manfaat dan beban tindakan resusitasi.

Mempertemukan Perawatan Intensif dan Paliatif

Perawatan intensif dan perawatan paliatif sering dianggap berada pada dua kutub yang berlawanan. Pandangan tersebut perlu diluruskan. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan pelayanan terbaik sesuai dengan kebutuhan dan nilai yang dimiliki pasien.

Ketika terapi kuratif masih bermanfaat, dukungan organ dan tindakan agresif dapat diberikan secara optimal. Ketika peluang keberhasilan menjadi sangat kecil, orientasi pelayanan dapat diarahkan pada kenyamanan, pengendalian gejala, komunikasi yang jujur, serta pendampingan bagi pasien dan keluarganya.

Perubahan tujuan terapi bukan berarti tenaga medis berhenti merawat. Bentuk perawatannya berubah: dari mengejar pemanjangan fungsi biologis menjadi upaya menjaga kenyamanan dan martabat pasien.

Menuju Keputusan Klinis yang Lebih Manusiawi

Pengembangan Skor FORREST menunjukkan bahwa inovasi kedokteran tidak selalu harus berbentuk alat berteknologi tinggi. Sebuah kerangka keputusan yang sederhana, cepat, dan berbasis data juga dapat memberikan dampak yang penting bagi pelayanan kesehatan.

Kontribusi ini sekaligus menegaskan perubahan peran anestesiolog dan intensivis. Mereka bukan hanya menjalankan prosedur, memasang ventilator, atau memberikan obat penunjang sirkulasi. Mereka juga berperan dalam menilai prognosis, memimpin komunikasi klinis, serta membantu pasien dan keluarga memilih terapi yang paling sesuai dengan tujuan perawatan.

Pada akhirnya, keberhasilan pelayanan kedokteran tidak hanya diukur dari seberapa lama fungsi tubuh dapat dipertahankan. Keberhasilan juga tercermin dari kemampuan tenaga kesehatan dalam mengenali batas manfaat suatu intervensi dan tetap menjaga martabat pasien hingga akhir hayat.

Skor FORREST membawa pesan penting: menyelamatkan kehidupan merupakan kehormatan, sedangkan memahami kapan sebuah tindakan tidak lagi bermanfaat merupakan bagian dari kebijaksanaan klinis.

Artikel ini dikembangkan kembali oleh Doclyn berdasarkan publikasi orasi ilmiah pengukuhan sebagai Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Terakhir diperbarui 14 Aug 2026
Komentar
Komentar ditinjau sebelum tampil.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!